Kebiasaan Menumpuk Dosa, Ini Akibatnya

Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa. Namun, jika dosa sudah menjadi kebiasaan hingga menumpuk banyak, akan berakibat fatal bagi hati.

Islamisme.orgDalam Al Qur`an disebutkan:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin [83] : 14).

Dalam tafsir “al-Jalaalain” (14/588) disebutkan bahwa maknanya adalah sebagai suatu teguran keras terhadap orang yang dikuasai oleh perilaku maksiatnya sehingga bisa menutup hati.

Sedangkan dalam hadits riwayat Tirmidzi, dikatakan bahwa orang yang berbuat satu dosa atau kesalahan, maka dalam hatinya akan ada satu titik hitam. Ketika ia segera memohon ampun dan bertaubat, maka hatinya berkilau kembali. Jika melakukannya lagi maka hatinya bertambah hitam gingga menguasai hati. Itulah ‘raan’ (tutupan) yang dimaksud dalam surah Al-Muthaffifin ayat 14.

Sehubungan dengan masalah ini, Imam Al-Ghazali pernah menulis, “Tatkala dosa semakin menumpuk, maka (ia) akan menutup hati. Pada saat itulah hati (menjadi) buta, tidak mampu mengetahui yang haq (kebenaran sejati) dan kebaikan agama. (Bahkan) akan menganggap remeh urusan akhirat, memngagungkan urusan dunia dan fokus hidupnya hanya sebatas dunia. (Ihya Ulumiddin, 3/12)

Dari situ bisa disimpulkan bahwa akibat dosa yang menumpuk adalah hati menjadi tertutup, kemudian buta, tak mampu mengetahui yang benar dan baik, menyepelekan akhirat dan mengutamakan kehidupan dunia yang sementara.

Apakah hati kita masih hidup? Ibnu Qayyim pernah menulis dalam bukunya terkait kata mutira dari Ibnu Mas’ud. Katanya, carilah hatimu dalam tiga lokasi:

Pertama, ketika mendengar al-Qur`an.

Kedua, pada majelis dzikir.

Ketiga, pada saat sedang sendiri.

Lanjutnya, “Jika engkau tak menemukannya dalam tempat-tempat ini, maka segeralah bermohon kepada Allah, karena saat itu kamu tak punya hati (alias mati).”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here