Islam Melarang Kita Berkeluh Kesah Ketika Hujan Turun

Hujan merupakan rahmat Allah yang patut disyukuri. Karena itu, Islam melarang kita berkeluh kesah ketika hujan tiba dan kita dianjurkan untuk melangitkan doa-doa.

Islamisme.org – Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha, mengatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika hujan turun mengucapkan: Allahumma shayyiban nafi’an, yang artinya, Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. (HR. Bukhari no. 1032)

Al-Qur’an juga memaparkan fakta terkait turunnya hujan. Allah berfirman bahwa Dia menurunkan air hujan dalam ukuran atau kadar tertentu, sebagaimana dalam surat Az-Zukhruf ayat 11.

“Dan, yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan), lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati.…”

Abdul Syukur Al Azizi dalam bukunya, Islam Ilmiah menjelaskan, kata “kadar” yang disebutkan dalam ayat tersebut merujuk pada salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama.

“Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi pada setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan, secara terus-menerus, beredar dalam sebuah siklus seimbang menurut ukuran tertentu,” tulisnya.

Dia menambahkan, fenomena menarik lainnya dari turunnya hujan ialah terkait dengan kecepatan turunnya air. Ketinggian minimum awan ialah sekitar 12.000 meter.

Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558 km/jam. Tentunya, objek apa pun yang jatuh dengan kecepatan ini bisa mengalami kerusakan.

Menurutnya, jika hujan turun dengan cara demikian maka tanaman bisa hancur, pemukiman, perumahan, dan kendaraan juga dapat mengalami kerusakan. Apalagi jika hujan turun dari awan yang lebih tinggi.

Akan tetapi, tidak demikian yang terjadi dengan turunnya air hujan. Dari ketinggian berapa pun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah.

“Hal ini disebabkan bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelanjutan tetesan-tetesan hujan ketika mencapai “batas” kecepatan tertentu,” katanya.

“Dia-Iah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada ( tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS. an-Nahl ayat: 10).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here