Tata Cara Jamak dan Qasar Shalat saat Diperjalanan

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu mengqasar shalatmu.” (QS An-Nisa 4:101)

Islamisme.org – Mengqasar dan menjamak shalat wajib adalah keringanan dalam syariat yang datangnya dari Allah SWT. Karena itu, seorang muslim diperbolehkan mengqasar atau menjamak salatnya sebagaimana tuntunan Alquran Sunah Rasulullah SAW.

Qasar adalah memendekkan salat wajib dari empat rakaat menjadi hanya dua rakaat sebagai keringanan (rukhsah) bagi seorang musafir. Sedangkan jamak adalah penggabungan dua salat wajib antara Zuhur dan Asar atau Magrib dan Isya, dan sebaliknya (KBBI).

Sedangkan jamak qasar adalah penggabungan dua salat wajib dalam satu waktu (salat) sekaligus dengan penyingkatan dari empat menjadi dua rakaat. Salat jamak qasar bisa dilakukan di waktu salat yang awal, seperti jamak qasar Zuhur dan Asar di waktu Zuhur. Ini disebut jamak takqim.

Jamak takhir dilakukan di waktu salat yang kedua, misal salat jamak Zuhur dan Asar di waktu Asar. Dua salat wajib ini bisa dilakukan masing-masing dua rakaat (qasar) atau tetap masing-masing empat rakaat.

Nabi SAW bersabda: “Salat diwajibkan dua rakaat-dua rakaat, maka ditambah dua rakaat di saat tidak bepergian.” (Bukhari No 350, Muslim 685, Nasai 453, dan Abu Dawud 1198).

Mengqasar salat dalam bepergian termasuk sunah, karena Nabi SAW selalu mengqasar salatnya bila dalam keadaan bepergian. Bila ada yang ingin menyempurnakan salatnya maka tidak apa-apa.

Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda: “Pemberian yang diberikan Allah kepadamu, maka terimalah pemberian-Nya.” (HR Muslim)

Adapun musafir yang bermakmum kepada orang yang mukim (penduduk setempat), ia harus menyempurnakan salatnya menjadi empat rakaat (tidak mengqasar.

Sementara jarak perjalanan yang dijatuhi bolehnya mengqasar dan menjamak salat minimal tiga mil atau farsakh.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Baihaqi, dari Yahya bin Yazid, ia berkata:

“Aku bertanya kepada Anas Ra tentang jarak yang dibolehkan mengqasar salat, Nabi SAW bersabda, dulu Rasulullah SAW apabila bepergian dengan jarak tiga mil, atau Farsakh beliau salat (dengan mengqasarnya) dua rakaat.” (Muslim 691, Abu Dawud 1201, dan Ahmad 3/129).

Bagi seorang musafir, tetap dibolehkan azan dan iqamah. Jika jamak qasar, cukup satu azan dan dua iqamah.

Dalam buku Fikih Ibadah (Dr Muttaqien Sa’id/ hal 155), tidak ditetapkan ketetapan jarak perjalanan yang dibolehkan untuk mengqasar salat, tetapi kembali pada urf (kebiasaan) di suatu tempat. Seperti perjalanan dari Makkah ke Arafah dianggap safar (perjalanan jauh) bagi penduduk Makkah sehingga dibolehkan mengqasar salat dan menjamaknya.

Sebagaimana dijelaskan dalam sunah, boleh di jamak dan qasar karena Makkah dan Arafah adalah satu barid (setengah hari berjalan kaki). Sebagai catatan, dalam hadis si atas, 1 mil dimaksud sama dengan 1.748 meter dan 1 farsakh sama dengan 5.541 meter.

Kemudian, salat kembali dilakukan dengan sempurna bila seorang musafir telah kembali dari perjalanannya. Selama masih dalam perjalanan, tetap bisa di qasar dan dijamak.

Waktu-waktu yang dapat dijamak atau jamak qasar adalah:

1. Zuhur dan Asar
2. Magrib dan Isya

Waktu pelaksanaan:
1. Di waktu Zuhur untuk salat Zuhur dan Asar
2. Di waktu Asar untuk salat Zuhur dan Asar
3. Di waktu Magrib untuk salat Magrib dan Isya
4. Di waktu Isya untuk salat Magrib dan Isya

Catatan:
1. Tidak berlaku untuk salat Subuh.
2. Salat qasar cukup dilakukan dua rakaat saja lalu dijamak dengan salat lain dengan dua rakaat lagi
3. Bisa mengikuti salat berjamaah baik Zuhur dan Asar dengan sempurna empat rakaat. Salat jamak dilakukan setelah selesai salat berjamaah. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here