Hukum Membakar Kertas yang Ada Lafal Allah

Di kalangan ulama, ada perbedaan pendapat mengenai hukum membakar kertas yang di dalamnya ada lafal atau nama Allah SWT.

Islamisme.orgDalam buku berjudul “Al-Laa`i al-Hassaan fii ‘Uluum al-Qur`aan” (58) karya Dr Musa Syahin, permasalahan ini dijelaskan dengan cukup gamblang.

Menurut Ibnu Bathal dalam penjelasannya terkait hadits Bukhari, beliau berpandangan bahwa boleh membakar kitab-kitab yang di dalam ada nama Allah. Hal itu sebagai bentuk memuliakan serta menjaganya agar tidak terinjak kaki manusia. Sementara yang lain ada juga yang berpendapat makruh.

Sedangkan Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa hukum kebolehan membakar, hanya terjadi pada masa itu (Utsman bin Affan). Adapun sekarang, maka mencucinya dengan air lebih utama ketika memang butuh menghilangkan lafal Allah.

Dr Musa sendiri lebih melihat pada tujuan dan niat si pembakar. Jika ia membakar bertujuan untuk menjaganya agar tidak dilecehkan, maka ia boleh melenyapkannya dengan sarana apa pun: bisa dengan membakar, menyobek, mencuci atau melemparnya ke laut. Bisa juga dikirim ke percetakan supaya didaur ulang dan lain sebagainya.

Catatan lain yang ditulis beliau adalah hendaknya sarana yang digunakan dalam kategori baik. Misalnya, jangan sampai dibuang di tempat sampah atau tempat buang hajat (toilet).

Hal penting yang dikatakan beliau terkait pembakaran ini, “Jika tujuan dari awal adalah melecehkan, maka melenyapkannya –walau dengan cara baik— hukumnya haram. Senada dengan masalah ini adalah meletakkan kitab-kitab terkait ilmu, hadits dan al-Qur`an di antara buku-buku lainnya atau meletakkannya di atas tanah, meskipun yang utama adalah meletakkan al-Qur`an di tempat tinggi supaya tumbuh rasa hormat pada jiwa orang yang melihatnya.”

Itu baru sekadar kertas yang ada tulisan nama Allah. Lalu bagaimana jika ada orang yang sengaja membakar al-Qur`an untuk melecehkannya. Dalam buku “Fataawa Nuur ‘Ala al-Darbi” (65), Syekh Bin Baz berkata bahwa orang yang membakar al-Qur`an karena benci, melecehkan dan murka padanya ini adalah kemunkaran besar dan pelakunya bisa dihukumi murtad.

Lanjut beliau, “Demikian juga orang (muslim) yang sengaja menduduki al-Qur`an, menginjaknya dengan kaki sebagai pelecehan, atau melumurinya dengan barang najis, mencela orang yang berbicara dengan al-Qur`an, maka hal demikian termasuk kemurtadan yang besar dari Islam.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here