Shalat Membawa Handphone Bagaimana Hukumnya?

Dalam kacamata fikih, pada asalnya, membawa Handphone (HP) saat salat tidak ada masalah karena bukan barang yang najis. Namun, ada adabnya.

Islamisme.orgDi Jakarta, mungkin juga kota-kota yang lain, sering kali ketika imam hendak memimpin salat berjama’ah, selain anjuran merapatkan shaf, ada pula tambahan, “Bagi yang membawa HP atau alat komunikasi, harap menonaktifkan.”

Membawa HP saat salat memang sudah menggejala di tengah-tengah masyarakat. Bahkan sering didapati, selepas salat yang dilakukan pertama kali bukan zikir, tapi langsung membuka HP. Seakan HP sudah menjadi adiktif. Tiada hari tanpa HP.

Membawa HP tidak ada masalah karena bukan barang yang najis. Namun, persoalannya kemudian, ternyata HP bisa mengganggu kekhusyuan orang salat akibat bunyi yang ditimbulkan, baik berupa panggilan dari orang lain, atau bunyi alarm.

Dengan kondisi demikian, berlakulah kaidah:

مَا يُقْطَعُ بِتَوْصِيْلِهِ إِلَى الْحَرَامِ فَهُوَ حَرَامٌ

“Sesuatu yang dipastikan bisa mengantarkan pada yang haram, maka ia juga haram.” (Zarkasyi, al-Bahru al-Muhiith, 2013: V/385)

Artinya, mengganggu orang shalat hukumnya haram, maka ketika HP yang dibawa shalat itu berbunyi sehingga mengganggu orang yang shalat berjamaah, maka hukum membawanya menjadi haram.

Oleh karena itu, bagi yang tetap bawa HP saat salat, perlu dijaga sedemikian rupa agar HP tidak mengganggu orang lain. Bisa dengan dimatikan terlebih dahulu atau biasanya di-silent.

Perlu kiranya diperhatikan juga bagi yang membawa HP, berdasarkan literatur hadis, suasana salat pada zaman Nabi sangat kondusif dan khusyu. Apa sebab? Karena sebelum salat mereka mempersiapkannya dengan sangat baik.

Mereka benar-benar niat salat sejak dari rumah, memakai baju terbaik yang dimilikinya, tidak membawa sesuatu yang bisa mengganggu shalat, bersiwak, bahkan kalau perlu parfum dan semacamnya. Mereka menyadari betul bahwa yang akan dihadapi adalah Allah Sang Maha Pencipta.

Rasulullah pun juga turut berkontribusi menciptakan kondisi demikian. Perhatikan kata-kata beliau saat meluruskan rapat jamaah shalat, “Jika kamu hendak shalat, maka shalatlah seperti orang yang hendak meninggal dunia.” (HR. Ahmad)

Tidak ada yang tahu kapan ajal tiba. Bagaimana jika waktu shalat adalah ajal terakhir kita, kemudian HP berbunyi dan mengganggu kekhusyuan orang lain? Bukankah hal itu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah?

Ketika dalam salat orang berpikir bahwa mungkin ini adalah shalat terakhirnya, maka dia akan berusaha untuk khusyu, mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika sejak awal bawa HP, akan disiapkan sedemikian rupa agar tidak mengganggu diri dan orang lain.

Jadi, hukum membawa HP tergantung pada sisi mengganggu atau tidaknya. Alangkah baiknya, jika sejak awal sebelum salat, HP sudah dalam kondisi nonaktif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here