Ini 4 Cara Agar Dapat Hidayah dari Al-Qur’an

Ada empat hal jika dipraktikkan, maka seseorang akan mudah mengambil manfaat dari al-Qur’an.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf [50]: 37)

Tema besarnya adalah empat cara agar mendapat nanfaat atau hidayah dari Al-Qur`an. Berdasarkan dari penjelasan Ibnu Qayyim, mengenai ayat ini, ustadz Bachtiar menarasikan empat hal yang bisa membuat orang bisa mengambil manfaat seluas-luasnya dari Al-Qur`an.

Pertama, obyek. Yang dimaksud di sini adalah Al-Qur`an, yang nanti kembalinya adalah Allah Subhanahu wata’ala.

Kalau Ibnu Qayyim menarasikannya sebagai “muatssir” (pemberi pengaruh).

Terkait hal ini, ustadz yang akrab disapa UBN ini menyatakan, “Tidak ada narasi yang lebih hebat daripada Al-Qur’an.”

Kedua, subyek. Yang dimaksud di sini adalah hati yang hidup. Qalbun Hayyun. “Kalau hati sudah hidup, maka sejak awal orang sudah punya modal untuk membenarkan kebenaran Al-Qur’an.”

Kalau hati tidak hidup, maka akan sulit untuk mengambil manfaat dari al-Qur’an.

Ketiga, syaratnya. Maksudnya adalah dengan hati yang fokus dan pendengaran yang baik.

Keempat, bersih dari berbagai penghalangnya. Di sini disebut sebagai mata dan sekujur tubuh menyaksikan dengan konsentrasi penuh.

Jadi, hati dan semua organ tubuh difokuskan untuk mengambil manfaatnya.

Di akhir khutbah, salah satu yang dianjurkan beliau adalah berjihad dengan jihad yang besar.

Yang dimaksud jihad di sini adalah jihad dengan al-Qur’an. Memakai narasi-narasinya serta menyebarkannya dengan berbagai risiko yang akan dihadapi.

“Al-Qur’an adalah mulia. Kalau orang di hatinya ada al-Qur’an, maka menempel pula kemuliaan itu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here