Khawatir Pandemi Covid-19, Bolehkah Tidak Shalat Jumat di Masjid?

Pada asalnya, hukum shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain (kewajiban individual) yang dilaksanakan secara berjamaah, melainkan beberapa pengecualian pada hadits berikut:

الجمعةُ حق واجب علَى كلِّ مسلمٍ إلاَّ أربعةً: عبدٌ مملوكٌ، أوْ امرأةٌ، أوْ صبي، أوْ مريض”

“(Shalat) Jum’at adalah wajib atas tiap-tiap muslim, kecuali empat: hamba sahaya, perempuan, anak kecil atau sakit.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Ada juga tambahan dalam hadits lain:

منْ كانَ يؤمنُ باللَّهِ واليومِ الآخرِ فعليهِ الجمعةُ يومَ الجمعةِ إلاَّ مريضًا، أوْ مسافرًا، أوِ امرأةً، أوْ صبيًّا، أوْ مملوكا

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka dia wajib melaksanakan (shalat) Jum’ah melainkan orang sakit, musafir, perempuan, anak kecil dan hamba sahaya.” (HR. Daruquthni, Baihaqi)

Hadits ini, meski dalam sanadnya ada kelemahan, tapi oleh jumhur ulama diamalkan isinya. Baca keterangan Abu Bakar Al-Jaza`iri dalam “Minhāj al-Muslim.”

Ibnu Mundzir (241-318 H) Rahimahullah berkata dalam bukunya yang berjudul “al-Ausath fī as-Sunan wa al-Ijmā’ wal-Ikhtilāf, “Mereka berijma’ (bersepakat) bahwa shalat Jum’at wajib atas orang yang merdeka, balig dan mukimin yang tidak memiliki uzur (syar’i).” (al-Ausāth fī as-Sunan wa al-Ijma’ wal-Ikhtilāf, 44)

Jadi, darurat yang membolehkan orang tidak shalat Jum’at adalah ketika dalam kondisi demikian: menjadi hamba sahaya atau budak, perempuan, anak kecil, orang sakit dan musafir (orang yang dalam perjalanan).

Karena itu, orang yang meninggalkannya secara sengaja tanpa ada udzur syar’i, akan mendapat ancaman keras. Salah satunya hadits berikut:

مَنْ تَرَكَ الْجُمْعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلى قَلْبِهِ

“Barang siapa meninggalkan Jum’at tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan mengunci mati hatinya.” (Ibnu Abdil Bar)

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan menyebarnya virus corona, apakah bisa dimasukkan dalam kategori darurat sebagaimana kasus di Iran saat ini? Selanjutnya, jika masuk kategori darurat maka apa yang harus dilakukan: shalat Dzuhur atau tetap shalat Jum’at di rumah?

Ustadz Ma’ruf Abdul Jalil (ustadz yang menekuni hadits dan fikih di Ma’had Al-Ittihad Al-Islami Camplong Madura) ketika ditanya mengenai masalah ini melalui WhatsApp, beliau menjawab:

“Waalaikmussalam, insya Allah itu termasuk darurat. Adapun mengenai orang yang tidak shalat berjamaah Jumat di masjid, maka dalam hal ini ada dua pendapat : Pertama, orang yang tidak shalat jamaah jumat di masjid, harus shalat zhuhur. Karena shalat Jumat sebagai pengganti shalat zhuhur dan harus berjamaah.”

“Kedua, orang yang tidak shalat berjamaah Jumat di masjid, tetap shalat Jumat, walaupun sendirian di rumah. Karena pada hari Jumat, shalat zhuhur sudah dimansukh oleh kewajiban shalat Jumat. Untuk itu, sebisa mungkin walaupun shalat jumat di rumah, dilakukan secara berjamaah, walaupun dengan anak, atau istri. Saya –pribadi– mengamalkan pendapat kedua. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here